Langsung ke konten utama

Postingan

Apa Rasanya Tidur di Tengah Laut Singapura?

Masih ingat dengan kapal pesiar ikonik di film Titanic yang dibintangi aktor Leonardo Dicaprio?  Saat menonton film itu bertahun-tahun lalu, saya ikut terpesona dengan kemewahan dan kemegahan kapal pesiar di film ini, berbobot 46.328 ton, dengan panjang 259 meter dan tinggi mencapai 53,3 meter, kapal ini seumpama istana terapung dengan segala fasilitas lengkapnya.  Setelah melihat film itu, muncul sedikit keinginan untuk ngerasain liburan di tengah laut di atas kapal pesiar mewah. Sensasinya pasti berbeda dengan gaya liburan sebelum-sebelumnya. Siapapun rasanya juga enggak akan nolak kalau ada kesempatan liburan mewah di kapal pesiar ya, kan. Tapi siapa sangka kesempatan itu datang juga tepat di tahun 2014 lalu. Bos di kantor tempat saya dulu bekerja memberi saya kesempatan untuk memimpin sebuah tur yang beragendakan menginap dan beraktivitas di sebuah kapal pesiar mewah dengan rute Singapura- Malaysia-Singapura. Bersama 3 orang rekan lainnya, pengalaman kerja rasa liburan itu...

Intip Cara Introvert Asah Skill Komunikasi

                           Foto : Pexels.com "Masa iya, ngobrol aja harus punya skill segala?" Jawaban pertanyaan di atas, bagi saya sih yes. Karena nih ya, tanpa adanya kemampuan berkomunikasi, yang ada orang lain tidak bisa menangkap isi obrolan yang mau kita sampaikan. Ujung-ujungnya SALAH PAHAM. Jadi enggak enak, kan?  Apalagi buat seorang introvert yang tidak nyaman bertemu banyak orang, ditambah kalau harus berbicara di depan umum. Jadi ingat dulu masa-masa bekerja, kok bisa ya, saya yang pendiam dan cenderung lebih banyak bekerja dibanding bicara saat di kantor, diberi kepercayaan oleh atasan mengawasi dan mengoreksi pekerjaan beberapa teman. Dulu saat masih bekerja di dunia jasa pariwisata yang super sibuk dan membutuhkan konsentrasi tinggi, saya memang bersikap pendiam akut, enggak suka banyak ngomong, kecuali dengan saudara dan teman karib. Apalagi saat-saat harus bertemu klien baru, beberap...

Konservasi Beradab di Kampung Cidadap

In a world of constant change and streaming technology, I find solace in the forest where a tree remains a tree. Angie Wellard-Crosby Pagi itu cuaca cerah. Dikelilingi deretan perbukitan karst, beberapa orang berjalan santai beriringan. Jalan menanjak berbatu kapur dan semak belukar bukanlah hambatan. Tak terasa hampir 1 jam berjalan kaki, puncak tebing pun mulai terlihat. Pemandangan alam berwarna kehijauan berpadu rona putih khas bebatuan kapur segera menyapa Pak Gugum beserta rombongan dari atas bukit. Hari itu total ada 7 orang wisatawan yang akan menjajal salah satu wisata tak biasa di Bandung Barat ini. Mereka akan menaiki Hammock yang diikat di antara dua tebing dengan ketinggian lebih dari 100 meter di atas tanah. Tebing Hawu semakin terkenal dan banyak dikunjungi.  Pak Gugum Maulana dengan tiga orang instruktur lainnya sudah bersiap dengan seperangkat perlengkapan panjat tebing di tangan. Mereka akan naik Hammock di atas ketinggian 70 meter. Tak ada kepanikan, ...

Rutin Olahraga ; Love & Hate Relationship Journey dan Cerita Melawan Mager

"Hanya perlu 10 menit setiap harinya untuk membangun suatu kebiasaan baik" Quote di atas pernah tak sengaja saya dengar dari sebuah video motivasi di YouTube. Untuk membiasakan sesuatu menjadi kebiasaan yang tiap hari dilakukan, awalnya pasti susah. Dari yang awalnya cuma 10 menit, bisa jadi 20 menit, lalu setengah jam bahkan bisa menjadi satu jam rutinitas setiap harinya.  Hal ini pernah saya rasakan saat awal-awal membiasakan diri rutin berolahraga. Dari gerakan-gerakan kecil sekedar menggerakkan badan, sampai ke challenge workout 30 hari, 50 hari dan seterusnya.  Awalnya memang sangat susah mengajak diri berolahraga. Meski cuma gerakan ringan, kadang melawan mager dan keinginan untuk rebahan, itu yang rasanya bikin beraaat banget buat mengawalinya. Belum rasa sakit dan pegal-pegal yang timbul sesudahnya. Banyak orang akan memilih berhenti dan enggan berolahraga lagi karena ngerasa cuma capek, sakit dan pegal-pegal yang didapat saat awal-awal memulainya. Padahal...

Profesi Blogger dan Angin Segar untuk yang Hobi Nulis

.                    Foto : Pexels.com "Mbak, kenapa enggak nyoba buat blog aja? Nembus koran dan majalah memang sulit, tapi bukan berarti hobi nulis harus berhenti, kan?" Seperti semilir angin segar, kalimat itu terucap dari seorang teman baik pada suatu siang, di saat hati saya sedang galau menunggu kabar tulisan yang dikirim ke koran ataupun majalah.  Mandeg atau kurang sabar. Mungkin itu yang dulu saya alami saat berhari-hari tak ada kabar tulisan dimuat ataupun tidak.  Maklum saja saat itu yang saya tahu wadah menulis yang tepat agar tulisan saya bisa dibaca orang lain hanyalah dengan mengirimkannya ke pihak koran ataupun majalah. Dan pastinya dari pihak koran dan majalah pastinya tidak memiliki banyak waktu untuk memberi kabar satu-persatu tentang dimuat atau tidaknya suatu tulisan. Meski saat itu tetap ada beberapa tulisan saya yang sempat dimuat beberapa koran dan majalah. Beberapa juga berhonor, ada juga ya...

Tingkatkan Sosialisasi Kusta Bantu OYPMK Dapatkan Kesetaraan dan Hak Hidup Bermasyarakat

Marsinah Dhede atau yang akrab dipanggil Dhede, seorang aktivis wanita dan difabel sekaligus OYPMK pernah mengalami masa kecil dengan diskriminasi.  Berawal saat di usia sekolah tingkat dasar, ia merasakan gejala berupa ruam merah dan putih pada kulit, dan timbulnya mati rasa di bagian yang terkena. Dokter mendiagnosa ia terkena penyakit Kusta. Sejak itu pula, Marsinah kecil harus menjalani rangkaian pengobatan atau RTF ( Release From Treatment) selama 2 tahun. Ia pun rutin disuntik setiap hari Jumat dan sabar menjalani rutinitas bolak-balik ke puskesmas di desa yang jaraknya cukup jauh dari rumah dengan berjalan kaki. Tapi itu semua telah berlalu dan kini Marsinah benar-benar telah sembuh dari Kusta.  "Di rumah, keluarga sangat merangkul dan mendukung proses kesembuhan saya tapi saat saya melangkah keluar rumah dan bertemu orang-orang, stigma yang berlaku di masyarakat langsung menyapa. Teman-teman sebaya menolak bermain dengan saya, para tetangga seperti menjauh ...

It's Our Journey; Kembali ke Rumah Masa Lalu, Belajar Nrimo dan Struggle Together Bersama Oreo 110th Birthday Celebration

"Mau enggak mau, sepertinya kita harus balik ke rumah itu lagi, Dek."  Barang-barang sudah di-packing. Kardus-kardus berserakan. Hanya memori yang tertinggal di langit-langit kepala. Lalu sesudahnya, dalam waktu kurang dari seminggu, kami pun pindah ke rumah lain. Toh diskusi panjang kali lebar memang sudah kami lakukan. Kami tak ingin mengeluh tentang apapun, yang hanya akan membuat keadaan jadi lebih berat.  Pandemi memang membuat kita beradaptasi ulang dengan cara masing-masing. Ada yang kehilangan pekerjaan, ada pula yang masih bisa bekerja dari rumah. Ada yang memperjuangkan kesehatannya, tak bisa bertemu keluarga atau bahkan kehilangan nyawa orang-orang tersayang. Dan untuk kami, kami kebagian untuk pindah ke rumah masa lalu dan memulai sebuah usaha baru dari awal. "Bismillahirrahmanirrahim, dimulai dari nol, ya, Dek." Saya mengangguk. Ucapan suami tadi memang benar menggambarkan keadaan kami saat itu. Menguras tabungan demi usaha baru, 'mengen...