Menjejak kembali di tempat ini, sesaat saya seperti dibawa ke masa lalu. Membayangkan sosok Sukitman, seorang yang bisa lolos dan menjadi saksi hidup kekejaman PKI di masa itu. Mungkin tak pernah terbesit di hati Sukitman, hari itu akan menjadi hari yang berbeda dari hari-hari biasanya. Di pikirannya, malam Jumat kali itu tetaplah sama dengan malam-malam lainnya. Ia tetap berangkat bekerja untuk patroli seperti biasanya menggunakan sepeda. Lubang Buaya, tempatnya berpatroli memang sangat sepi, hanya ada belasan rumah warga berdiri di sana. Areanya pun gelap gulita ketika malam hari, jarang dilewati orang karena jauh dari keramaian kota. Sebuah desa kecil pinggiran Jakarta yang dipenuhi kebun karet, rawa-rawa, semak belukar juga dikelilingi hutan rimbun. Berfoto di depan Monumen Pancasila Sakti (dok.pri) Kejadiannya pun begitu cepat. Sukitman sempat mendengar rentetan tembakan-sebelum dirinya disergap, tangan dan kedua matanya diikat dengan kain merah lalu tubuhnya didorong terseok...
Sudah hampir 4 hari orang terkasih saya dilanda sakit. Ga tega rasanya tiap kali melihatnya meringis nyeri, bahkan tak bisa berbaring ataupun duduk karena rasa sakit yang menyerang bokongnya. Kalau sudah sakit, pepatah lawas "Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati", barulah terasa benar adanya. Siapapun orangnya nggak ada yang mau sakit. Apalagi kalau sakitnya adalah sakit Ambeien. Dan ini kali kedua saya melihat penyakit itu kambuh lagi. Setelah 2 tahun berselang, penyakit Ambeien itu muncul lagi. Dan kali ini dengan gejala yang lebih parah. Ilustrasi sakit ambeien (dok. Pixabay for free) Mencari Obat yang Cocok Ikhtiar Berobat Ke-1 Setelah 2 hari nyeri tak kunjung hilang, kami memutuskan berobat ke klinik langganan, memakai layanan BPJS tentunya. Di klinik ini, kami mendapatkan satu strip Ambeven dan beberapa tambahan vitamin dari dokter yang bertugas. Dokter menyarankan untuk memperbanyak minum air putih dan tentunya asupan serat berupa buah pepaya untuk memperlancar pros...