Langsung ke konten utama

Berkunjung Lagi ke Museum Lubang Buaya

Menjejak kembali di tempat ini, sesaat saya seperti dibawa ke masa lalu. Membayangkan sosok Sukitman, seorang yang bisa lolos dan menjadi saksi hidup kekejaman PKI di masa itu.

Mungkin tak pernah terbesit di hati Sukitman, hari itu akan menjadi hari yang berbeda dari hari-hari biasanya. Di pikirannya, malam Jumat kali itu tetaplah sama dengan malam-malam lainnya. Ia tetap berangkat bekerja untuk patroli seperti biasanya menggunakan sepeda.

Lubang Buaya, tempatnya berpatroli memang sangat sepi, hanya ada belasan rumah warga berdiri di sana. Areanya pun gelap gulita ketika malam hari, jarang dilewati orang karena jauh dari keramaian kota. Sebuah desa kecil pinggiran Jakarta yang dipenuhi kebun karet, rawa-rawa, semak belukar juga dikelilingi hutan rimbun. 

Berfoto di depan Monumen Pancasila Sakti (dok.pri)

Kejadiannya pun begitu cepat. Sukitman sempat mendengar rentetan tembakan-sebelum dirinya disergap, tangan dan kedua matanya diikat dengan kain merah lalu tubuhnya didorong terseok-seok ke suatu titik di sana. 

Di sekitarnya saat itu, suasana riuh dengan suara-suara orang yang berteriak. Selang-seling, campur aduk antara rintihan, hardikan dan rentetan tembakan. Saat kain penutup di matanya dilepas, ia bisa melihat sorak sorai massa tengah bernyanyi dan meneriakkan yel-yel. Parahnya lagi, dari tempatnya terduduk lemas di sisi sebuah truk, ia bisa melihat aktivitas terlarang saat beberapa orang tengah disiksa, ditembaki peluru lalu digiring dan dipaksa masuk ke sebuah sumur berdiameter sempit dalam keadaan beberapa orang masih bernapas. Sukitman pasrah, bisa jadi setelah ini gilirannya. 

Namun siapa yang menyangka, ia bisa kabur dan menyelamatkan diri. Tepat pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, ia segera melaporkan peristiwa kelam yang dialaminya kepada komandannya di Batalyon 454. Melalui kesaksian Sukitman pula, jejak kelam peristiwa Lubang Buaya 1965 bisa terungkap.

Sumur Maut saksi bisu kekejaman PKI (dok.pri)

Melewati gerbang depan, saya bertemu penjaga loket dan membayar tiket masuk untuk 3 orang. Kawasan museum Lubang Buaya telah banyak berubah saat saya kunjungi pada 4 Oktober, bulan lalu. Rupanya beberapa hari lalu, museum ini baru saja selesai direvitalisasi dan diresmikan ulang pemerintah, tepatnya pada 1 Oktober 2026. 

Suasana di area parkiran sudah terlihat lumayan banyak pengunjung di hari itu, mungkin karena peristiwa kelam itu baru saja diperingati dan filmnya diputar di televisi beberapa hari lalu. Setelah memasuki area depan pintu masuk, saya berjalan menyusuri melewati sebuah lapangan rumput hijau berukuran sangat besar. Suasananya sejuk, rindang dikelilingi pohon-pohon besar. 

Di bagian depan pengunjung segera disambut dengan keberadaan sumur maut yang dinaungi gazebo di sekelilingnya. Sumur maut yang ukuran lingkarnya sangat kecil, berdiameter 75 cm dengan kedalaman 12 meter. Pikiran saya kembali ke masa itu. Nggak sanggup rasanya membayangkan ketika tubuh para pahlawan revolusi dipaksa masuk ke sumur kecil itu (beberapa di antaranya bahkan masih dalam kondisi bernyawa). Sungguh kejam dan biadabnya para anggota PKI tersebut.

Tak jauh dari sumur maut, terdapat tiga bangunan berbentuk rumah di antaranya berupa :

  1. Rumah Penyiksaan 
          Bangunan ini digunakan para anggota PKI untuk menginterogasi dan menyiksa para pahlawan revolusi yang mereka culik. Reka adegan berupa patung-patung dan rekaman suara yang menjelaskan kelamnya peristiwa itu, membuat saya merinding dan ngilu, tak kuat berlama-lama berdiri di area  tersebut.

Rumah Penyiksaan (dok.pri)

       2. Pos Komando

           Di rumah inilah, PKI mengadakan rapat persiapan merencanakan strategi operasi pemberontakan mereka. Pemilik rumah tersebut seorang pribumi bernama Haji Sueb. Dirinya dan keluarganya tidak mengetahui kalau rumahnya tersebut akan dijadikan pos komando PKI karena mereka  telah diungsikan terlebih dahulu oleh PKI dari rumah tersebut. PKI meminjam rumahnya dengan alasan untuk kegiatan latihan militer. 

Pos Komando dari sisi depan (dok.pri)

      3. Dapur Umum

          Rumah ini berfungsi sebagai dapur umum untuk menyiapkan logistik dan makanan anggota PKI. Seperti juga saat berada di Pos Komando, saya memutuskan untuk berjalan memasuki bangunan Dapur Umum tersebut.  

Dapur Umum (dok.pri)

Monumen Pancasila Sakti

Berada tak jauh dari sumur maut, terdapat sebuah monumen peringatan. Di bagian monumen ini, saya bisa melihat ke-7 patung yang berdiri gagah, terdiri dari para pahlawan revolusi yang menjadi korban pemberontakan G30SPKI. 

Semakin siang, pengunjung terlihat semakin ramai. Tampak pula beberapa rombongan anak sekolah menggunakan bis. Rupanya kunjungan ke Lubang Buaya cukup banyak diagendakan oleh sekolah-sekolah untuk mengedukasi para siswanya tentang betapa kelamnya peristiwa pemberontakan tersebut. 

Masih di kawasan yang sama, saya melihat sebuah truk yang digunakan pasukan Tjakrabirawa (PKI) menculik para jenderal. Semakin saya berjalan ke bagian dalam, saya kembali menemukan sebuah gedung terpisah bernama Museum Kesaktian Pancasila. Dulunya museum ini dinamakan Museum Penghianatan PKI, namun museum ini berganti nama setelah direvitalisasi pemerintah dengan beberapa penambahan di dalamnya yaitu : 

1. Penambahan Ruang Immersive 
2. Pembaruan diorama dengan sentuhan teknologi multimedia

Diorama lokasi Lubang Buaya tahun 1965 (dok.pri)


Masih di dalam gedung yang sama namun di ruangan yang terpisah, saya menemukan Ruang Relik. Ruang ini menyimpan jejak darah dan pakaian asli yang terakhir dikenakan oleh para pahlawan revolusi. Dan lagi-lagi saya bergidik ngeri melihat peninggalan sejarah yang disebabkan peristiwa pemberontakan tersebut.

Berjalan terus ke depan, saya menemukan sebuah selasar atau berupa area transisi yang menghubungkan saya ke sebuah museum lainnya yaitu Musuem Paseban. Museum ini menyimpan koleksi berbagai diorama serta foto dokumentasi yang berkaitan dengan peristiwa pemberontakan tersebut. Di museum ini kita bisa juga menemukan ruang teater tempat ditayangkannya film G30S-PKI.
Baik di Museum Kesaktian Pancasila ataupun di Museum Paseban, kondisinya sangat terawat dan rapi, hawa di dalamnya juga dingin dikarenakan penggunaan AC yang merata di setiap ruangan. Para pengunjung juga terlihat nyaman saat menyusuri ruangan, membaca dan meneliti dari satu diorama ke diorama lainnya.

Baju yang dikenakan Kapten Pierre Tendean saat kejadian penculikan (dok.pri)

Baju yang dikenakan Jenderal Sutoyo saat kejadian penculikan (dok.pri)


Berkunjung lagi ke Museum Lubang Buaya, membuat saya tersadar bahwa sejarah bukan hanya untuk diingat namun juga bisa dirasakan. Terutama saat berdiri di depan Sumur Maut, Rumah Penyiksaan dan Ruang Relik. Ada hawa berat menyesakkan yang sulit untuk diceritakan. Mungkin saking kelamnya peristiwa yang terjadi di area tersebut, membuat dada saya terasa sesak bahkan untuk sekedar hanya membayangkan saja saya tidak sanggup. 

Selain rasa duka yang mendalam untuk para pahlawan revolusi beserta keluarga yang ditinggalkan, rasa hormat tak terhingga juga saya ucapkan untuk semua korban peristiwa ini. Semoga bisa menjadi pengingat persatuan terutama untuk para generasi muda berikutnya dalam menyikapi sejarah.


Sepeda yang digunakan Sukitman saat berpatroli dan ditangkap PKI (dok.pri)










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menyekolahkan Anak di Gontor

"Mah, Kakak mau SMP-nya di Gontor aja. Boleh nggak, Mah?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut putri kami yang saat itu masih kelas 5 SD. Ya, terus terang waktu itu aku sempat kaget mendengar sulung kami ingin mondok di sana. Lokasinya yang sangat jauh dari rumah, perkiraan biaya sekolah di sana yang mahal, ditambah pikiran-pikiran lain yang membuat saya berpikir lagi untuk menyekolahkan anak kami di sana. Walaupun begitu, memang sejak kelas 3 SD, putri kami sudah berniat ingin mondok saat SMP nanti. Dan dulu, niat kami mencarikan pondok pesantren di sekitar Bogor atau kota lain yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Tapi siapa yang nyangka, putri kami justru tegas memilih Gontor sebagai pesantren pilihannya. Menurutnya lagi, dia sudah riset dan menjatuhkan pilihan pada pesantren ini.  Ya, saat itu, tepatnya 5 tahun lalu, kami sebagai orang tua justru belum banyak tahu tentang pesantren Gontor. Hanya sedikit yang kami tahu tentang pesantren ini. Tentang pres...

Guantanamo Diary- Diari Terampasnya HAM Seorang Napi

Secara tidak sengaja, buku ini awalnya saya comot begitu saja saat tak sengaja melihatnya di sebuah rak buku di sebuah toko buku besar di pusat perbelanjaan tak jauh dari rumah.  Pertimbangan saya saat itu hanya menilik lewat kover buku yang berwarna cerah dan blurb yang menyentak di bagian belakang buku. Dan setelah membacanya, saya langsung terhanyut dengan kisah yang dialami sang penulis-Mohamedou Ould Slahi- yang nyatanya sampai saat ini pun dirinya tak pernah menyangka dipaksa mendekam di dalam penjara terkejam di dunia-Guantanamo. Tanpa berbuat kesalahan apapun, ia menjadi tertuduh anggota teroris oleh Amerika. Miris namun begitu banyak hikmah yang terkandung di buku ini. Saat membacanya, hati saya ikut gelisah yang akhirnya saya tuangkan ke dalam sebuah tulisan dan Alhamdulillah dimuat di  Koran Jakarta, 15 Nov 2016. Berikut ulasannya. Kesaksian dari Neraka Guantanamo Judul Buku    : Guantanamo Diary Penulis   ...

Kampanye #KejuAsliCheck Mengedukasi Cara Tepat Memilih Keju

Pertama kali membaca tagar #KejuAsliCheck di sosial media, jujur saya sempat tertegun dan bertanya-tanya sendiri, apa benar ada keju yang tidak asli.  Meski begitu, kampanye #KejuAsliCheck ini terdengar unik dan menggelitik saya untuk mencari tahu lebih jauh perihal keaslian sebuah keju. Sempat kepikiran juga apakah merk keju yang biasa saya dan keluarga konsumsi termasuk keju asli atau tidak. Jadi bikin kepo-lah intinya. Cari tahu lebih lanjut, saya pun baru tahu kampanye #KejuAsliCheck ini berasal dari keju KRAFT sebagai brand keju unggulan di Indonesia (Loh, loh, ini mah merk keju favorit saya). Keju KRAFT pun sebelumnya telah melakukan survei kepada konsumen. Dan hasilnya lebih dari 61% konsumen tidak mengetahui bahwa produk keju cheddar di pasaran tidak semuanya berbahan utama keju cheddar. Dari hasil survey ini pula, keju KRAFT menghadirkan kampanye #KejuAsliCheck agar para ibu bisa lebih  aware  dalam membaca label pangan pada kemasan keju terutama keju cheddar yan...