Langsung ke konten utama

Intip Cara Introvert Asah Skill Komunikasi

 
                         Foto : Pexels.com

"Masa iya, ngobrol aja harus punya skill segala?"

Jawaban pertanyaan di atas, bagi saya sih yes. Karena nih ya, tanpa adanya kemampuan berkomunikasi, yang ada orang lain tidak bisa menangkap isi obrolan yang mau kita sampaikan. Ujung-ujungnya SALAH PAHAM. Jadi enggak enak, kan? 

Apalagi buat seorang introvert yang tidak nyaman bertemu banyak orang, ditambah kalau harus berbicara di depan umum. Jadi ingat dulu masa-masa bekerja, kok bisa ya, saya yang pendiam dan cenderung lebih banyak bekerja dibanding bicara saat di kantor, diberi kepercayaan oleh atasan mengawasi dan mengoreksi pekerjaan beberapa teman.

Dulu saat masih bekerja di dunia jasa pariwisata yang super sibuk dan membutuhkan konsentrasi tinggi, saya memang bersikap pendiam akut, enggak suka banyak ngomong, kecuali dengan saudara dan teman karib. Apalagi saat-saat harus bertemu klien baru, beberapa kali ikut belajar memandu tur dan terpaksa berkecimpung di pekerjaan yang harus berinteraksi dengan orang banyak, rasanya memang sangat-sangat menguras energi. 

Kalau sekarang, membayangkan saja rasanya sudah mual dan ujung-ujungnya keringat dingin mengucur. Tapi dulu bisa jadi karena beberapa hal yang akhirnya membuat saya mau enggak mau harus tetap berbicara dan bekerja di bidang tersebut.

Berdasarkan pengalaman saya, berikut beberapa cara untuk seorang introvert mengasah skill berbicaranya :

1. Terpaksa oleh keadaan
Bekerja di dunia pariwisata membuat saya sadar saya enggak bisa "ngumpet" tanpa ketemu orang lain setiap harinya. Padahal ngumpet dari orang lain bisa menghemat energi saya (baterai kali ah). Tapi emang beneran sih, ketemu orang apalagi dalam jumlah banyak waktu itu rasanya sangat melelahkan. Tapi karena kondisi pekerjaan, mau enggak mau ya harus tetap dilakoni. Dengan terus menerus bertemu konsumen, melayani keperluan tiket pesawat dan liburan mereka, saya pun jadi belajar berinteraksi dan berkomunikasi lebih baik lagi agar konsumen tersebut nyaman dan memutuskan membeli paket liburannya melalui saya. 

2. Ambil kesempatan untuk tampil di depan
Beberapa kali atasan saya memberi reward agar saya bisa ikut belajar memimpin suatu grup perjalanan baik itu dalam maupun luar negeri. Saya yang terbiasa kerja di balik meja, tiba-tiba saja harus mendampingi para peserta tur selama beberapa hari perjalanan dengan segala permasalahan yang mungkin saja timbul selama perjalanan. Saya sadar kesempatan tak datang dua kali, toh sambil kerja, bisa nambah pengalaman sekalian jalan-jalan. 

3. Lawan rasa malu
Sepanjang perjalanan, saya berusaha menekan rasa malu dan minder saat melayani tamu-tamu di lapangan. Di kepala, saya mencoba memikirkan citra diri positif yang ada pada diri saya sambil terus memberikan yang terbaik untuk para peserta tur, mengiringi mereka serta memastikan tur berjalan baik sampai hari terakhir. Saat citra diri positif sudah muncul di kepala, rasa percaya diri pun ikutan muncul. Setelah dijalani, rasanya gak terlalu sulit seperti yang dibayangkan. 

Sekarang pun, setelah memutuskan berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga sekaligus freelance, saya berusaha untuk tidak terlalu terlalu "ngumpet" atau menutup diri dari pergaulan lingkungan sekitar. 

                             Foto : dokpri

Misalnya dengan ikut pengajian majlis ta'lim di lingkungan rumah, arisan RT, melayat tetangga dan beberapa kegiatan lainnya, usahakan untuk menyapa dan tersenyum kepada ibu-ibu lainnya. Lawan rasa takut atau enggan berbicara, tenangkan hati dan pikiran, lalu mulailah untuk membuka obrolan ringan. 

Dari situ saya bisa belajar untuk mengembangkan skill berkomunikasi. Cukup dari memberanikan diri untuk sapa dan senyum di awal, maka si introvert ini pun tidak terlalu terlalu gloomy lagi.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menyekolahkan Anak di Gontor

"Mah, Kakak mau SMP-nya di Gontor aja. Boleh nggak, Mah?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut putri kami yang saat itu masih kelas 5 SD. Ya, terus terang waktu itu aku sempat kaget mendengar sulung kami ingin mondok di sana. Lokasinya yang sangat jauh dari rumah, perkiraan biaya sekolah di sana yang mahal, ditambah pikiran-pikiran lain yang membuat saya berpikir lagi untuk menyekolahkan anak kami di sana. Walaupun begitu, memang sejak kelas 3 SD, putri kami sudah berniat ingin mondok saat SMP nanti. Dan dulu, niat kami mencarikan pondok pesantren di sekitar Bogor atau kota lain yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Tapi siapa yang nyangka, putri kami justru tegas memilih Gontor sebagai pesantren pilihannya. Menurutnya lagi, dia sudah riset dan menjatuhkan pilihan pada pesantren ini.  Ya, saat itu, tepatnya 5 tahun lalu, kami sebagai orang tua justru belum banyak tahu tentang pesantren Gontor. Hanya sedikit yang kami tahu tentang pesantren ini. Tentang pres...

Guantanamo Diary- Diari Terampasnya HAM Seorang Napi

Secara tidak sengaja, buku ini awalnya saya comot begitu saja saat tak sengaja melihatnya di sebuah rak buku di sebuah toko buku besar di pusat perbelanjaan tak jauh dari rumah.  Pertimbangan saya saat itu hanya menilik lewat kover buku yang berwarna cerah dan blurb yang menyentak di bagian belakang buku. Dan setelah membacanya, saya langsung terhanyut dengan kisah yang dialami sang penulis-Mohamedou Ould Slahi- yang nyatanya sampai saat ini pun dirinya tak pernah menyangka dipaksa mendekam di dalam penjara terkejam di dunia-Guantanamo. Tanpa berbuat kesalahan apapun, ia menjadi tertuduh anggota teroris oleh Amerika. Miris namun begitu banyak hikmah yang terkandung di buku ini. Saat membacanya, hati saya ikut gelisah yang akhirnya saya tuangkan ke dalam sebuah tulisan dan Alhamdulillah dimuat di  Koran Jakarta, 15 Nov 2016. Berikut ulasannya. Kesaksian dari Neraka Guantanamo Judul Buku    : Guantanamo Diary Penulis   ...

Kampanye #KejuAsliCheck Mengedukasi Cara Tepat Memilih Keju

Pertama kali membaca tagar #KejuAsliCheck di sosial media, jujur saya sempat tertegun dan bertanya-tanya sendiri, apa benar ada keju yang tidak asli.  Meski begitu, kampanye #KejuAsliCheck ini terdengar unik dan menggelitik saya untuk mencari tahu lebih jauh perihal keaslian sebuah keju. Sempat kepikiran juga apakah merk keju yang biasa saya dan keluarga konsumsi termasuk keju asli atau tidak. Jadi bikin kepo-lah intinya. Cari tahu lebih lanjut, saya pun baru tahu kampanye #KejuAsliCheck ini berasal dari keju KRAFT sebagai brand keju unggulan di Indonesia (Loh, loh, ini mah merk keju favorit saya). Keju KRAFT pun sebelumnya telah melakukan survei kepada konsumen. Dan hasilnya lebih dari 61% konsumen tidak mengetahui bahwa produk keju cheddar di pasaran tidak semuanya berbahan utama keju cheddar. Dari hasil survey ini pula, keju KRAFT menghadirkan kampanye #KejuAsliCheck agar para ibu bisa lebih  aware  dalam membaca label pangan pada kemasan keju terutama keju cheddar yan...